Rehat Sejenak.
“Growing up
How are we supposed to give, to take, collate
Growing up
How are we supposed to love, to breath, to be” -Growing up, Daramuda.
How are we supposed to give, to take, collate
Growing up
How are we supposed to love, to breath, to be” -Growing up, Daramuda.
berberapa bulan yang lalu, gue mengupdate dan kembali menulis lagi di blog dan pada saat itu gue berjanji akan nulis lagi. tapi ternyata, gue malah mengingkari janji gue. maafkan gue teman-teman, jujur gue sangat ingin menulis blog dari beberapa bulan yang lalu, tapi mental health gue sangat buruk beberapa bulan yang lalu. gue benar-benar gak bisa melakukan banyak aktivitas karena deperesi yang menyerang gue cukup parah. tapi apakah sekarang gue sudah membaik? mungkin belum, karena sampai detik ini gue masih merasa sekosong itu. ah, hidup memang kadang semenyebalkan itu.
sekarang, gue tinggal di Jogja. memulai kehidupan baru sebagai mahasiswi sekaligus perantau di kota yang notabennya gak pernah gue datangi sebelumnya. lucu memang, gak pernah berkunjung kok bisa nyasar dan kuliah disini. anggap saja gue sedang kuliah sekaligus jalan-jalan di kota yang “katanya.” dirindukan ini. Selama kuliah disini, gue malah banyak mendapat cobaan gara-gara gue sakit disaat gue baru masuk kuliah 3 minggu. dan sakit gue ternyata sangat betah ada ditubuh gue sampai sekarang dan merusak hampir 1 bulan kehidupan perkuliahan gue. gue setiap hari cuman bisa nangis, kesakitan, mual karena sakit kepala yang cukup hebat, bangun pagi dengan keadaan seperti itu membuat gue pengen lari dan berhenti kuliah. jujur, gue ga sekuat itu bisa ngelewatin sakit yang cukup menggangu dan tinggal sendirian jauh dari keluarga.
ditambah lagi dengan jurusan yang gue ambil, gue makin merasa ingin berhenti karena merasa udah gak punya chemistry lagi dengan jurusan yang gue ambil. kalo bahasa gampangnya gue merasa gue salah jurusan. mungkin kalian bertanya “kenapa diambil kalo ga suka?.” oke begini, gue mempertimbangkan dari segi kesempatan, kenapa gue ambil walaupun pada saat itu gue belum yakin dengan jurusan ini? karena gue lulus dari jalur SNMPTN yang dimana membuat gue gak akan diterima dari jalur SBMPTN dan beberapa jalur mandiri PTN. gue juga merasa gue gak bisa menolak kesempatan ini karena dengan gue menolak, membuat sekolah gue diblacklist oleh pihak PTN yang menerima gue. iya, gue terdengar seperti orang-orang yang ingin cari “aman”. gue akui, lulus SNMPTN itu mempermudah gue untuk lebih santai. tapi kenyataannya, gue terlalu bodoh sampai gue tidak mempertimbangkan resiko yang akan gue terima jika gue mengambil jurusan yang ternyata bukan minat gue.
ntah berapa kali gue mengatakan gue ingin menyerah, gue mau mengundurkan diri, sampai gue mau kabur tanpa memberi keterangan apapun ke pihak kampus. 1 semester ini semacam cobaan untuk gue, gue sempat benar-benar berada di blank spots gue. akhirnya, gue memutuskan pulang ke Medan. dengan modal nekat gue pulang padahal pada saat itu UTS tinggal 3 hari lagi. saat gue pulang, pertanyaan-pertanyaan yang gue yakin akan muncul pun mulai ditanyakan keluarga gue.”
“sebenarnya suka filsafat ga sih?.”
“kalo ga suka kok diambil, buang-buang uang aja.”
“udah sekarang kamu mengundurkan diri aja, daripada kayak gini.”
iya, itu kata-kata yang keluarga gue lontarkan saat gue pulang. apakah gue marah pada saat itu? engga juga. gue berusaha menerima, karena gue tau ini adalah bagian dari kenyataan yang harus gue dengarkan kalo gue memutuskan untuk pulang bukan karena liburan, tapi karena gue stress merantau.
namun, kata-kata diatas membuat gue malah jadi merenung dan mengingat apa tujuan gue berangkat dan tinggal sendiri di jogja. gue berangkat ke jogja dan rela meninggalkan zona nyaman gue demi belajar mandiri. gue berangkat ke jogja untuk mencari ilmu. terus, kenapa gue menyerah sebegitu cepatnya? disaat ada ratusan bahkan ribuan orang pengen menjadi bagian dari kampus gue, gue malah pengen melepas kampus yang sudah mau menerima anak yang pada dasarnya biasa aja dibidang akademiknya.
setelah gue meminta untuk diberi kesempatan lagi sampai tahun depan, gue pun kembali ke jogja dengan perasaan yang baik. gue mulai berpikir “jika memang Tuhan mau gue disini, pasti ada alasannya. gak mungkin Tuhan gak ngasih hal yang indah untuk gue syukuri..” gue pun kembali dan langsung disambut oleh UTS
sekarang gue sadar, ini hanya masalah waktu kapan gue bisa menerima sesuatu hal yang tidak sesuai dengan apa yang gue mau. mungkin akan ada hal indah yang bisa jadi membuat gue malah bersyukur dan tersenyum dimasa depan nanti. bukan sekarang memang, tapi nanti saat Tuhan percaya gue udah bisa belajar dari kehidupan yang gue jalani sekarang.
belajarlah mengikhlaskan sesuatu yang ada didalam hidup kita, gak semua sesuai harapan kadang. mungkin kita kecewa, tapi apakah kalian bisa meyakini diri kalian sendiri apa yang kalian inginkan akan jadi yang terbaik untuk diri kalian? gak ada yang bisa menjamin itu.
“hiduplah sebaik mungkin, hiduplah selagi masih diberi waktu.”

Komentar
Posting Komentar